MENCINTAI RASULULLAH-MENJADIKAN BELIAU SEBAGAI IDOLA KITA-DAN MANUSIA YANG PALING KITA CINTAI
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ
"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran;
sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak
akan diminta (pertanggungan jawab...) tentang penghuni-penghuni neraka".
(Terjemah Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 149).
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ
يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang,
maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan
Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". (Terjemah
Al-Quran Surat Al- Imran ayat 144).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي
رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
"Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Terjemah Al-Quran Surat Al-Ahzab
ayat 21).
---DI AKHERAT SESEORANG BERSAMA YANG DICINTAI---
Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu mengisahkan, "Ada seseorang yang
bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hari kiamat, “Kapankah
kiamat datang?" Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Apa
yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab,
"Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak,
hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم." Maka
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda, "Seseorang (di hari kiamat)
akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau
cintai." Anas pun berkata, "Kami tidak lebih bahagia daripada
mendengarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم, 'Engkau akan bersama orang
yang engkau cintai". Anas kembali berkata, "Aku mencintai Nabi صلى الله
عليه وسلم, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama
mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku
sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari
dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari (X/557 no: 6171) dan at-Tirmidzi
dalam Sunan-nya (2385))
Dari Anas Radhiallahu 'anhu berkata:
Seorang Arab bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, "Bilakah
hari kiamat?" Rasulullah saw menjawab, "Apakah bekalmu untuk
menghadapinya?" Ia menjawabnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka
Rasulullah saw bersabda, "Engkau akan berkumpul dengan orang yang engkau
cintai."(HR. Bukhari - Muslim).
SALAH SATU KISAH KETLDANAN BELIAU
Pernah
terjadi dimasa lalu, setiap kali Rasulullah Muhammad صلى الله عليه
وسلم, berjalan melewati sebuah gang/jalan kecil, saat Beliau sampai di
depan rumah seorang yahudi, orang yahudi tersebut punya kebiasaan unik
yang rutin dilakukan terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم , yaitu
meludahi Rasulullah dari depan rumahnya. Ini berlangsung setiap hari
Rasulullah lewat di depan rumahnya. Lalu apa reaksiRasulullah صلى الله
عليه وسلم ? Apakah Beliau membalasnya..? tidak, Beliau hanya tersenyum
kepada orang yang meludahinya, membersihkan ludah yang menempel di badan
atau baju Beliau, dan pergi meninggalkan orang yahudi si peludah ini.
Bagaimana kira-kira jika kejadian rutin yang di alami oleh Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dialami oleh kita..? Kira-kira apa yang akan kita
lakukan..?
Sampai pada suatu pagi ketika Rasulullah صلى
الله عليه وسلم lewat di depan rumah orang yahudi "sang peludah", Beliau
heran karena tidak diludahi seperti biasanya. Esok hari Beliau lewat di
depan rumah orang yahudi "sang peludah" lagi, hari berikutnya begitu
juga dua, sampai di hari ketiga tetap tidak ada ludah dari si Yahudi.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mencari berita, pergi kemana si Yahudi
ini, dan Beliau mendapat laporan bahwa ternyata dia sedang sakit.
Reaksi Beliau saat mendengar si Yahudi ini sakit adalah langsung
mendatangi ke rumahnya. Sesampainya, betapa kagetnya si Yahudi pemilik
rumah bahwa orang yang selama ini diludahinya, disakiti setiap hari,
ternyata adalah orang pertama kali menjenguknya di saat dia sakit.
Awalnya Si Yahudi diliputi rasa hawatir bahwa Rasulullah صلى الله عليه
وسلم akan membalas menyakitinya dikarenakan dirinya yang sedang sakit
dan lemah tidak berdaya, tetapi apa yang disangkakannya ternyata keliru.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang untuk menjenguk, bahkan kemudian
Beliau mendoakan Si Yahudi agar sembuh dari penyakitnya. Doa Rasulullah
itu tanpa hijab (penghalang) dan tidak pernah tertolak. Maka tidak lama
kemudian, sembuhlah Si Yahudi ini dari sakitnya. Lalu apa yang terjadi
selanjutnya? Si Yahudi memeluk erat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan
menyatakan ingin masuk Islam. Dia kemudian mengucapkan Syahadat dengan
penuh kesadaran dan tanpa paksaan untuk memeluk agama Islam. Asyhadu
allaa ilaa ha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah (saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi
bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).
Ini benar-benar SANGAT LUAR BIASA, akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم
tauladan kita semua, pensikapan terhadap kisah ini, mungkin beberapa
orang akan mengatakan, "Ya jelas saja Beliau itu Nabi dan Rasul..!...
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bisa sabar diludahi orang, kan Beliau itu
Nabi..! Dengan diutus kepada kita seorang Nabi Rasulullah صلى الله عليه
وسلم dari kalangan manusia bukan malaikat, adalah biar tidak akan muncul
sanggahan dari manusia untuk tidak bisa mencontoh Beliau, dengan
berkata-kata seperti di atas...
"Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia
banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab:21).
MENCINTAI RASULULLAH BERARTI MENGIKUTI SUNNAHNYA
Sunnah
Rasulullah : yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah
, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau kitab “Taujiihun
nazhar ila ushuulil atsar” (1/40), memiliki kedudukan yang sangat agung
dalam Islam, karena Allah menjadikan sunnah Rasulullah sebagai
penjelas dan penjabar dari al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber
utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah
dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam
dengan benar.
Allah berfirman:
وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan
Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah ), supaya mereka
memikirkan” (QS an-Nahl:44).
Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah t
ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah , beliau menjawab:
“Sungguh akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an”[ HR. Muslim (no. 746)].
Ini berarti bahwa Rasulullah adalah orang yang paling sempurna dalam
memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan
menghiasi diri dengan adab-adabnya[Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam
kitab “Syarh shahih Muslim” (6/26)]. Maka orang yang paling sempurna
dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah , dialah yang paling
sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan al-Qur’an dan agama Islam
secara keseluruhan.
Imam Ahmad bin Hambal – semoga Allah
merahmatinya – berkata: “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat
Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus sunnah wal jama’ah) adalah: bahwa
sunnah Rasulullah adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan
makna) al-Qur’an”[Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 3)].
Oleh karena
itulah, para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah mendefinisikan sunnah
Rasulullah sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara
keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan[kitab “Jaami’ul
uluumi wal hikam” (hal. 321)].
Imam Abu Muhammad
al-Barbahari[Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari al-Bagdadi (wafat
328 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (15/90)]
berkata: “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu
dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa
ada yang lainnya”[Kitab “Syarhus sunnah” (hal. 59)].
Mengikuti Rasulullah dengan benar sebagai bukti cinta kepada Allah
Allah berfirman:
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah:
Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah
(sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni
dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali
‘Imran:31).
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini
berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi
setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak
mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah , maka dia adalah orang yang
berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau
mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad dalam
semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”[Tafsir Ibnu Katsir (1/477)].
Imam
al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata: “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang
mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha
meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap
benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka
orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah adalah jika
terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti)
cinta kepada Rasulullah yang utama adalah (dengan) meneladani beliau ,
mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya,
melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi
diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan
susah maupun senang dan lapang maupun sempit”[ Kitab “asy-Syifa
bita’riifi huquuqil mushthafa” (2/24)].
Berdasarkan keterangan di
atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah yang
sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau , dengan
berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah
mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah dengan melakukan
perbuatan-perbuatan bid’ah[10] dengan mengatasnamakan cinta kepada
beliau , atau memuji dan mensifati beliau secara berlebihan, dengan
menempatkan beliau melebihi kedudukan yang telah Allah tempatkan
beliau padanya[kitab “Mahabbatur Rasul bainal ittibaa’ wal ibtidaa’”
(hal. 65-71)].
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:
“Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas,
sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa)
bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka
katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya”[HSR al-Bukhari (no. 3261)].
Inilah
makna cinta kepada Rasulullah yang dipahami dan diamalkan oleh
generasi terbaik umat ini, para sahabat y. Anas bin Malik t berkata:
“Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah
melebihi beliau , akan tetapi jika mereka melihat beliau , mereka tidak
berdiri (untuk menghormati beliau ), karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah membenci perbuatan tersebut”[HR at-Tirmidzi (5/90) dan Ahmad
(3/132), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani].
Bagaimana menyempurnakan cinta kepada sunnah Nabi dalam diri kita?
Imam
Ibnu Rajab al-Hambali membagi derajat (tingakatan) cinta kepada
Rasulullah menjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan
dua tingkatan ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada
sunnah Rasulullah , yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam
dirinya.
Dua tingkatan tersebut adalah:
1- Tingkatan yang
fardhu (wajib), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang mengandung
konsekwensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh
Rasulullah dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha, hormat dan
patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah) beliau
secara utuh. Kemudian mengikuti dengan baik agama yang beliau sampaikan
dari Allah, dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan,
mantaati semua kewajiban yang beliau perintahkan, maninggalkan semua
perbuatan haram yang dilarangnya, serta menolong dan berjihad (membela)
agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang
menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh setiap muslim) dan
tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.
2- Tingkatan
fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang
mengandung konsekwensi meneladani beliau dengan baik, mengikuti sunnah
beliau dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah
sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan
keluarga, serta semua adab beliau yang sempurna dan akhlak beliau yang
suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah
dan perjalanan hidup beliau , rasa senang dalam hati dengan mencintai,
mengagungkan dan memuliakan beliau , senang mendengarkan ucapan (hadits)
beliau , dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau di atas ucapan selain
beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah
meneladani beliau sikap zuhud beliau terhadap dunia, mencukupkan diri
dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau kepada
(balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)”[ Kitab “Istinyaaqu nasiimil
unsi min nafahaati riyaadhil qudsi” (hal. 34-35].
Keutamaan mengikuti sunnah Rasulullah
Allah berfirman:
{لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).
Ayat
yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti
sunnah Rasulullah , karena Allah sendiri yang menamakan semua perbuatan
Rasulullah sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa
orang yang meneladani sunnah Rasulullah berarti dia telah menempuh
ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya
mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah.
Ketika menafsirkan ayat
ini, imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan landasan
yang agung dalam meneladani Rasulullah dalam semua ucapan, perbuatan
dan keadaan beliau “[Tafsir Ibnu Katsir (3/626).].
Kemudian
firman Allah di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting
untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah
Rasulullah dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang
ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk
meneladani sunnah Rasulullah merupakan pertanda kesempurnaan imannya.
Syaikh
Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata:
“Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan
taufik (dari Allah ) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang
mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena
(kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan
kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi
seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah “[Kitab “Taisiirul
Kariimir Rahmaan” (hal. 481].
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar